Pak Tua Penjual Koran, Korban Kecelakaan Yang Sempat Koma, Diminta Menyerahkan Uang 10 Juta

Share This Story !

Exist Jambi News, Jambi – Tgl 11 Desember 2020 yang lalu, terjadi kecelakaan maut , pukul 05.10 pagi, di Talang Banjar di jalan M. Thaher tepat di depan di rumah makan Pusako 4, antara seorang bapak tua (70 tahun) berama Hamli yang berprofesi sebagai lopper koran dengan mengendarai motor tua merah dengan seorang anak muda (18 tahun) Dicky Ardiansyah, yang mengakibatkan. Bapak tua terluka dan koma hampir 10 hari di RS Erni Medika, sedangkan korban yang lain, Dicky Ardiansyah, yang sejak kecelakaan pada pagi itu, dan terlihat hanya terluka pada bagian wajah, namun pada pukul 18.20 WIB pada hari yang sama, meninggal dunia saat akan dilakukan operasi di RS. Raden Mattaher.

Selama hampir 2 minggu, bapak Hamli di rawat di rumah sakit, dengan mengandalkan asuransi Jasa Raharja, yang harus keluar rumah sakit pada tanggal 25 Desember 2020, walau kondisi belum membaik, terpaksa karena keterbatasan ekonomi dan biaya yang ditanggung nu Jasa Raharja sudah mencapai batas maksimal.

Dalam segala keterbatasannya, putra Pak Hamli, yang cacat tangan dan bekerja di Dinas Kebersihan kota Jambi, dengan mengikuti truk sampah, dan sebagai pengangkut sampah harian , pernah berusaha untuk berempati dengan keluarga korban meninggal, dengan menyerahkan uang 2 juta rupiah, namun ditolak.

“Saya sangat bingung pak menghadapi musibah ini, apalagi orangtua saya koma dan kedaan kami yang serba kekurangan, namun sebagai rasa prihatin saya, keluarga kami pernah berusaha mengumpulkan uang 2 juta, itu yang bisa kami bisa, yang kami serahkan kepada keluarga korban, walau kamipun  belum tahu siapa yang salah dan siapa yang benar, namun pemberian keluarga kami di tolak, dan meminta ganti biaya pemakaman, biaya dokter dan tahlilan yang jumlahnya 10 juta” Ibnu menyatakan hal itu seminggu setelah kecelakaan maut itu terjadi.

Lebih jauh Ibnu, menyatakan keresahannya, karena sempat di panggil ke Polsek Simpang Pulai pada 16 Desember 2020, untuk kembali dipertemukan dengan keluarga korban, dengan tetap menuntut untuk menyerahkan uang 10 juta.

“ Panggilan polisi memang tidak dapat saya penuhi, karena kondisi bapak saya tak bisa ditinggal, karena belum juga sadar, jadi saya mengutus Ade,  keponakan saya, untuk menemui keluarga korban, dan mereka tetap meminta uang 10 juta, dan apabila hal ini tidak dipenuhi akan diproses hukum” ujar Ibnu tertunduk.

“Sebenarnya soal uang santunan, orang tua korban itu telah mendapatkan santunan dari Jasa Raharja , kalau tak salah sebesar 50 juta, tetapi masih memaksa kami menyerahkan uang 10 juta, bukannya kami tak mau memberikan tuntutan mereka, tapi memang kami tak memiliki  uang begitu banyak” dengan wajah Ibnu yang semakin bersedih.

Menurut Syahril Hannan,  yang juga mengikuti peristiwa kecelakaan maut itu dari awal, saat musibah dif ajar 11 Desember itu terjadi, ikut memberikan komentar, bahkan turut serta mencoba memediasi saat pertemuan di Polsek Simpang Pulai.

Kondisi dan kejadian ini sempat diposting, Ecky Renaldy di Laman Facebooknya, dan mendapat tanggapan dari berbagai Netizen.

Seperti tanggapan Syahril Hannan, yang turut memediasi bersama polisi, untuk mencari jalan tengah agar terjadi perdamaian

“ Sayo tau bapak Halmin  ini bertahun tahun menjual koran Tribun, Jambi Independent ,  di Simpang Persijam, penghasilannya tau deweklah, kalau dulu jaman belum ado medsos, mungkin biso di harapkan, tapi sekarang berapo banyaklah yang baco koran; anaknyo yang namonyo Ibnu hanyo petugas pengangkut truk sampah harian di dinas kebersihan kota jambi dan cacat tangannya, memang ado lah mereka ingin turut prihatin dengan keluarga yang korbannyo meninggal dunia, dengan menyerahkan uang hasil mengumpulkan kesana kemari hingga terkumpul 2 juta, tapi keluarga korban menolaknya, karena meminta uang 10 juta, kalau tidak di teruskan ke proses hukum, sedangkan kalau soal uang, korban meninggal sudah dapat dana santunan 50 juta dari Jasa Raharja, dan kalaupun akan diteruskan ke proses hukum rasanya jalan yang tidak bijak juga, bapak penjual koran ini, yang di perkirakan yang tewas karena sempat terkapar di jalan tanpa bergerak dan hingga tak sadarkan diri selama 10 hari di Rumah Sakit Erni Medika, kemudian masa pemulihannya yang perlu waktu lama, karena usianya yang sudah 75 tahun…rasanya tak mungkin untuk di sidang…saya sebagai warga yang tahu kejadian ini, memohon untuk kebesaran hati bagi keluarga yang menuntut 10 juta, untuk menggunakan nuraninya, untuk islah, ini bukan persoalan SALAH dan BENAR, belum tentu yang meninggal yang SALAH, atau bapak tua yang Koma selama 10 hari yang BENAR atau SEBALIKnya…ini musibah dari ALLAH, kalaupun memang keluarga masih bertahan dengan TUNTUTAN 10 juta, saya mohon ada perhatian dari masyarakat untuk menDONASI kan dana 8 JUTA, sebagai TAMBAHAN dari uang yang 2 JUTA mereka KUMPULKAN, untuk di berikan ke keluarga KORBAN yang MENINGGAL agar tidak MENUNTUT BAPAK TUA PENJUAL KORAN.

sayo colek wartawan Tribun Jambi Min  dan GM Jambi Independent  Munawir,

..mohon jugo pencerahannyo dari om Eppi Hideyoshi Suryadi  dan wo Joni Ismed.

Akun yang lain atas nama Eppi Hideyoshi, memberikan saran untuk membuka Donasi, untuk dikumpulkan dan diserahkan kepada keluarga Meninggal.

Eppi Hideyoshi : Pakdo 

 Syahril Hannan,  kito iuran… Pakdo yg kumpulin…

Dari sayo 250 ribu , Tlg inbox nomor rekening…

Jii Khoirul Mustofa  dan santri sayo Sopo Jarwo  berapo?? .

Atas usulan dari Bapak Eppi Hidayoshi, Exist Jambi News, membuka rekening atas nama, Hijrah saputra no rek BCA 8190031251, dengan batasan dana terkumpul 8 juta rupiah, dan Donatur akan di munculkan di bawah berita ini (Yazid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *